Waktu membaca 10 Menit

ETF Syariah: Cara Kerja, Bedanya, dan Contoh di Pasar AS

ETF syariah adalah ETF yang membentuk portofolionya berdasarkan prinsip syariah dengan menyaring aktivitas bisnis dan kondisi keuangan perusahaan. Mekanisme perdagangannya mirip ETF biasa, tetapi pilihan asetnya lebih terbatas. Bagi investor Indonesia, ETF syariah dapat menjadi cara memperoleh diversifikasi global sambil mempertahankan kriteria investasi berbasis syariah.

ETF syariah adalah ETF yang membentuk portofolionya berdasarkan prinsip syariah dengan menyaring aktivitas bisnis dan kondisi keuangan perusahaan. Mekanisme perdagangannya mirip ETF biasa, tetapi pilihan asetnya lebih terbatas. Bagi investor Indonesia, ETF syariah dapat menjadi cara memperoleh diversifikasi global sambil mempertahankan kriteria investasi berbasis syariah.

Poin Penting

  • ETF syariah adalah ETF yang hanya memasukkan aset yang memenuhi kriteria syariah berdasarkan metodologi tertentu.
  • Perbedaannya dengan ETF biasa terutama terletak pada proses screening, komposisi portofolio, dan pengawasan kepatuhan syariah.
  • Sektor seperti perbankan konvensional, alkohol, perjudian, dan bisnis lain yang tidak memenuhi prinsip syariah biasanya dikeluarkan.
  • HLAL dan SPUS merupakan contoh ETF syariah yang memberikan eksposur ke saham perusahaan AS.
  • ETF syariah tetap memiliki risiko pasar, valuasi, likuiditas, tracking error, dan konsentrasi sektor seperti ETF pada umumnya.

ETF menjadi salah satu instrumen yang banyak digunakan investor karena memungkinkan investasi ke sekumpulan aset melalui satu produk. Namun, tidak semua ETF memiliki kriteria yang sama dalam menentukan saham yang masuk ke portofolionya. ETF syariah menambahkan satu lapisan penting, yaitu memastikan aset yang dimiliki mengikuti prinsip-prinsip syariah.

Bagi investor Indonesia, konsep ini cukup relevan karena pasar modal syariah bukan sesuatu yang baru. Prinsip dasarnya adalah bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah, sementara ETF syariah pada dasarnya merupakan reksa dana syariah yang unitnya diperdagangkan di bursa.

Apa Itu ETF Syariah?

ETF syariah adalah exchange-traded fund yang portofolionya dibentuk berdasarkan kriteria investasi sesuai prinsip syariah. Produk ini tetap memiliki karakter dasar ETF, yaitu terdiri dari kumpulan aset dan unitnya dapat diperjualbelikan di bursa. Perbedaannya adalah saham atau aset yang dimasukkan harus melewati proses screening terlebih dahulu.

Proses tersebut biasanya tidak hanya melihat sektor usaha perusahaan. Kondisi keuangan seperti tingkat utang, pendapatan dari aktivitas tertentu, serta komposisi aset keuangan juga dapat menjadi bagian dari screening. Karena itu, sebuah perusahaan besar belum tentu dapat masuk ke dalam ETF syariah meskipun sahamnya terdapat di indeks pasar utama.

Secara sederhana, ETF biasa dapat mengambil saham dari universe investasi yang lebih luas. ETF syariah memiliki universe yang lebih terbatas karena perusahaan yang tidak lolos kriteria akan dikeluarkan. Hasilnya, komposisi ETF syariah dapat berbeda cukup jauh dari indeks konvensional yang menjadi pembandingnya.

Bagaimana Cara Kerja ETF Syariah?

Dari sisi investor, cara membeli dan menjual ETF syariah pada dasarnya mirip dengan ETF biasa. ETF memiliki ticker, harga pasar, bid-ask spread, net asset value, dan dapat ditransaksikan selama jam perdagangan bursa. Investor juga memperoleh eksposur ke beberapa perusahaan sekaligus melalui satu transaksi.

Perbedaan utama terjadi sebelum saham masuk ke dalam portofolio. Penyedia indeks atau pengelola ETF menggunakan metodologi tertentu untuk menentukan apakah perusahaan memenuhi kriteria syariah. Screening ini kemudian diperbarui secara berkala karena kondisi bisnis dan laporan keuangan perusahaan dapat berubah.

Contohnya, sebuah perusahaan mungkin memenuhi persyaratan pada satu periode tetapi kemudian mengalami perubahan struktur utang atau sumber pendapatan. Perubahan tersebut dapat menyebabkan saham dikeluarkan ketika indeks melakukan rebalancing berikutnya. Karena itu, kepatuhan syariah merupakan proses berkelanjutan, bukan pemeriksaan satu kali ketika ETF diluncurkan.

Bagaimana Screening Saham dalam ETF Syariah Dilakukan?

Screening umumnya dimulai dengan melihat aktivitas utama perusahaan. Perusahaan yang bisnis utamanya berada pada aktivitas yang tidak sesuai dengan prinsip syariah biasanya tidak dimasukkan. Setelah itu, perusahaan yang lolos secara aktivitas bisnis dapat diperiksa lagi berdasarkan kondisi keuangannya.

Beberapa kategori usaha yang biasanya disaring antara lain:

  • Perbankan dan Keuangan Konvensional Berbasis Bunga.
  • Alkohol.
  • Perjudian.
  • Produk Babi dan Makanan yang Tidak Sesuai Ketentuan.
  • Tembakau pada Metodologi Tertentu.
  • Bisnis Lain yang Tidak Memenuhi Kriteria Syariah.

Metodologi setiap indeks tidak selalu identik. Sebagai contoh, FTSE Shariah USA Index yang menjadi acuan HLAL menggunakan screening aktivitas bisnis sekaligus sejumlah rasio keuangan, termasuk pembatasan tingkat utang dan aset berbasis bunga. Investor karena itu perlu membaca metodologi indeks, bukan hanya mengandalkan kata "Shariah" pada nama ETF.

Mengapa Utang Juga Diperhatikan?

Sebuah perusahaan dapat bergerak di industri yang diperbolehkan tetapi memiliki tingkat utang berbasis bunga yang sangat tinggi. Karena itu, screening syariah biasanya tidak berhenti pada jenis bisnis yang dijalankan perusahaan. Struktur keuangan juga menjadi salah satu bagian dari proses penilaian.

Namun, ini tidak berarti setiap perusahaan harus memiliki utang nol. Banyak metodologi menggunakan batas rasio tertentu untuk menentukan apakah tingkat eksposur tersebut masih dapat diterima. Batas dan metode perhitungan dapat berbeda berdasarkan penyedia indeks atau kerangka syariah yang digunakan.

Apa Bedanya ETF Syariah dengan ETF Biasa?

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara memilih aset. ETF biasa umumnya mengikuti indeks atau strategi investasi berdasarkan faktor seperti kapitalisasi pasar, sektor, valuasi, atau tema tertentu. ETF syariah menggunakan faktor tersebut bersama dengan screening kepatuhan syariah.

Beberapa perbedaan utamanya adalah:

  • Universe Investasi. ETF biasa dapat memiliki lebih banyak saham, sedangkan ETF syariah hanya mengambil perusahaan yang lolos screening.
  • Sektor. ETF syariah biasanya tidak memiliki atau memiliki eksposur sangat terbatas pada sektor keuangan konvensional.
  • Rasio Keuangan. Kondisi utang dan sumber pendapatan tertentu dapat menjadi bagian dari proses screening.
  • Rebalancing. Perubahan kepatuhan dapat menyebabkan saham masuk atau keluar dari indeks.
  • Pengawasan Syariah. ETF syariah biasanya memiliki metodologi atau pihak yang bertanggung jawab terhadap penilaian kepatuhan.

Namun, dari sisi mekanisme investasi, keduanya masih memiliki banyak kesamaan. Keduanya memiliki expense ratio, risiko pasar, tracking error, bid-ask spread, dan dapat diperdagangkan selama jam bursa. Label syariah tidak berarti ETF tersebut memiliki risiko investasi yang lebih rendah.

Apakah Komposisi ETF Syariah Sangat Berbeda?

Bisa. Karena perusahaan keuangan konvensional biasanya tidak masuk dan perusahaan dengan leverage tinggi dapat tersaring, bobot sektor ETF syariah dapat berbeda dari indeks pasar yang lebih luas. Akibatnya, performanya juga tidak harus mengikuti indeks seperti S&P 500 secara persis.

Dalam beberapa ETF syariah saham AS, perusahaan teknologi dapat memiliki bobot yang cukup besar karena banyak perusahaan teknologi besar memenuhi kriteria screening tertentu. Hal ini dapat memberikan eksposur besar ke sektor dengan pertumbuhan tinggi, tetapi juga meningkatkan concentration risk. Komposisi tersebut perlu diperiksa secara berkala karena holdings akan berubah mengikuti kondisi pasar dan rebalancing.

Dengan kata lain, ETF syariah bukan sekadar versi ETF biasa yang beberapa sahamnya dihapus. Proses screening dapat menghasilkan karakter portofolio yang berbeda dari sisi sektor, valuasi, leverage, dan faktor pertumbuhan. Investor perlu memahami perbedaan tersebut sebelum membandingkan performanya.

Contoh ETF Syariah di Pasar AS

Pasar Amerika Serikat memiliki beberapa ETF yang dirancang untuk memberikan eksposur ke saham yang memenuhi kriteria syariah. Produk tersebut diperdagangkan di bursa seperti ETF lainnya dan dapat memiliki metodologi screening yang berbeda. Contoh berikut digunakan untuk menjelaskan bentuk produknya, bukan sebagai rekomendasi investasi.

SP Funds S&P 500 Sharia Industry Exclusions ETF (SPUS)

SPUS merupakan ETF yang mengikuti S&P 500 Shariah Industry Exclusions Index. Indeks tersebut mengambil perusahaan dari universe S&P 500 yang memenuhi kriteria syariah sekaligus mengeluarkan sejumlah industri tertentu. ETF ini diperdagangkan di NYSE Arca dan memiliki expense ratio 0,45% berdasarkan informasi produk September 2026.

Pendekatan SPUS membuat investor memperoleh eksposur ke sebagian perusahaan besar AS tanpa memiliki seluruh perusahaan yang terdapat dalam S&P 500. Pada September 2026, holdings besarnya mencakup perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, Apple, Microsoft, Alphabet, dan Broadcom. Holdings dapat berubah sehingga investor tetap perlu memeriksa data terbaru sebelum mengambil keputusan.

Wahed FTSE USA Shariah ETF (HLAL)

HLAL merupakan ETF yang terdaftar di Nasdaq dan mengikuti FTSE Shariah USA Index. Indeksnya menyaring perusahaan AS berdasarkan aktivitas bisnis dan rasio keuangan tertentu untuk membentuk portofolio saham yang memenuhi metodologi syariah. Expense ratio HLAL tercatat sebesar 0,50%.

HLAL dapat menjadi contoh bagaimana ETF syariah memberikan broad exposure terhadap saham AS tanpa mengikuti seluruh pasar secara konvensional. Portofolionya akan berubah mengikuti rebalancing FTSE Shariah USA Index. Metodologi screening menjadi faktor penting karena menentukan perusahaan mana yang dapat masuk atau harus dikeluarkan.

Wahed Dow Jones Islamic World ETF (UMMA)

UMMA merupakan contoh ETF syariah dengan cakupan yang lebih global. Berbeda dengan HLAL yang berfokus pada saham AS, UMMA berinvestasi pada perusahaan global yang memenuhi persyaratan syariah dan mengecualikan perusahaan berdomisili di Amerika Serikat. ETF ini menunjukkan bahwa pendekatan syariah tidak terbatas pada satu negara atau satu indeks.

Bagi investor, perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya membaca objective dan holdings ETF sebelum membeli. Dua produk yang sama-sama menggunakan label syariah dapat memberikan exposure geografis dan sektor yang sangat berbeda. Nama ETF saja tidak cukup untuk memahami karakter portofolionya.

Apa Potensi ETF Syariah?

Salah satu potensi terbesar ETF syariah adalah memberikan diversifikasi tanpa mengharuskan investor melakukan screening satu per satu terhadap ratusan perusahaan. Investor dapat memperoleh eksposur ke sekumpulan saham melalui satu produk yang sudah memiliki metodologi screening. Hal ini dapat membuat proses investasi lebih praktis bagi investor yang ingin mempertahankan prinsip syariah.

ETF syariah di pasar AS juga dapat membuka akses ke berbagai perusahaan global besar. Bagi investor Indonesia, hal ini memungkinkan diversifikasi di luar pasar domestik tanpa harus memilih setiap saham secara individual. Namun, jika ETF diperdagangkan dalam Dolar AS, nilai investasi dalam Rupiah juga akan dipengaruhi perubahan USD/IDR.

Potensi lain berasal dari karakter screening itu sendiri. Pembatasan terhadap perusahaan dengan leverage tertentu dapat menghasilkan portofolio yang cenderung memiliki struktur utang berbeda dari indeks konvensional. Namun, hal tersebut tidak otomatis berarti kinerjanya akan lebih baik atau risikonya selalu lebih rendah.

Apakah ETF Syariah Bisa Mengalahkan ETF Biasa?

Tidak ada jaminan ETF syariah akan memberikan return lebih tinggi daripada ETF konvensional. Pada periode ketika sektor yang mendapat bobot besar di ETF syariah berkinerja kuat, performanya dapat terlihat lebih baik. Sebaliknya, ketika sektor yang dikecualikan justru memimpin pasar, ETF syariah dapat tertinggal.

Contohnya, tidak adanya bank konvensional membuat ETF syariah dapat memiliki exposure sektor finansial yang jauh lebih rendah. Jika saham bank sedang mengalami periode performa kuat, indeks syariah mungkin tidak memperoleh manfaat yang sama. Sebaliknya, bobot yang lebih besar pada teknologi atau sektor lain juga dapat memberikan karakter return yang berbeda.

Karena itu, potensi ETF syariah sebaiknya tidak dinilai dari pertanyaan apakah ia akan selalu mengalahkan ETF biasa. Nilai utamanya adalah menyediakan struktur investasi yang mengikuti metodologi syariah sekaligus tetap menawarkan diversifikasi. Return kemudian tetap bergantung pada kinerja aset di dalam portofolio.

Apa Risiko ETF Syariah?

ETF syariah tetap merupakan produk investasi sehingga nilainya dapat naik maupun turun. Screening syariah tidak menghilangkan risiko pasar, risiko perusahaan, atau risiko valuasi. Bahkan pembatasan universe investasi dapat menciptakan risiko tambahan berupa konsentrasi pada sektor tertentu.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan adalah:

  • Risiko Pasar.
  • Konsentrasi Sektor.
  • Tracking Error.
  • Perubahan Holdings.
  • Likuiditas dan Bid-Ask Spread.
  • Perubahan Metodologi Screening.
  • Risiko Nilai Tukar bagi Investor Indonesia.
  • Expense Ratio.
  • Perbedaan Interpretasi Kriteria Syariah.

Apa yang Perlu Dicek Sebelum Memilih ETF Syariah?

Label syariah sebaiknya menjadi titik awal, bukan akhir dari analisis. Investor tetap perlu memahami apa yang sebenarnya dibeli, bagaimana indeks dibentuk, dan seberapa besar biaya yang dikenakan. Prinsip analisis ETF biasa tetap relevan.
Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:

  • Indeks atau Strategi yang Digunakan.
  • Metodologi Screening Syariah.
  • Holdings Terbesar.
  • Alokasi Sektor.
  • Expense Ratio.
  • Likuiditas.
  • Tracking Difference.
  • Jadwal Rebalancing.
  • Risiko Nilai Tukar.
  • Dokumen dan Pengawasan Kepatuhan Syariah.

Dua ETF syariah dapat menghasilkan exposure yang sangat berbeda meskipun sama-sama berinvestasi pada saham AS. Investor perlu melihat apakah portofolio terlalu terkonsentrasi pada beberapa perusahaan atau sektor tertentu. Expense ratio dan spread juga perlu diperhitungkan karena keduanya dapat memengaruhi return aktual.

ETF Syariah vs Saham Syariah, Apa Bedanya?

Membeli saham syariah berarti investor memiliki exposure langsung terhadap satu perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu. Sementara itu, ETF syariah menggabungkan banyak saham dalam satu produk sehingga risiko perusahaan individual dapat lebih tersebar. Keduanya tetap dapat digunakan sesuai tujuan dan strategi investor.

Jika investor memilih saham satu per satu, analisis fundamental terhadap setiap perusahaan menjadi lebih penting. Dengan ETF, sebagian proses pemilihan dilakukan melalui metodologi indeks atau pengelola dana. Namun, investor tetap perlu memahami holdings karena diversifikasi tidak otomatis menghilangkan risiko.

Kesimpulan

ETF syariah adalah ETF yang menggunakan prinsip syariah sebagai bagian dari proses pemilihan aset. Perusahaan biasanya harus melewati screening aktivitas usaha dan kondisi keuangan sebelum dapat dimasukkan ke dalam portofolio. Inilah perbedaan utamanya dibandingkan ETF biasa yang tidak menggunakan filter kepatuhan syariah.

Bagi investor Indonesia, ETF syariah dapat menjadi salah satu cara memperoleh diversifikasi sekaligus mempertahankan kriteria investasi berbasis syariah. Produk seperti SPUS dan HLAL menunjukkan bahwa investor dapat memperoleh exposure ke berbagai saham perusahaan besar AS melalui satu ETF dengan screening khusus. Namun, setiap produk memiliki metodologi, komposisi, biaya, dan tingkat risiko yang berbeda.

Potensi ETF syariah berasal dari kombinasi antara diversifikasi, akses pasar global, dan proses screening yang lebih terstruktur. Namun, label syariah tidak menjamin return, keamanan modal, atau performa yang lebih baik daripada ETF konvensional. Investor tetap perlu menilai holdings, valuasi, konsentrasi sektor, biaya, likuiditas, serta kesesuaian metodologi dengan prinsip yang ingin diikuti.

Dapatkan Reward hingga $25

Ada reward khusus pengguna baru saat buka rekening, deposit & transaksi di XTB!

Ambil rewardnya!

FAQ

ETF syariah adalah ETF yang portofolionya hanya terdiri dari aset yang memenuhi kriteria syariah berdasarkan metodologi tertentu. Screening biasanya mencakup aktivitas bisnis dan kondisi keuangan perusahaan. ETF tersebut tetap diperdagangkan di bursa seperti ETF pada umumnya.

Perbedaan utamanya terletak pada proses pemilihan aset. ETF syariah mengecualikan perusahaan atau aktivitas yang tidak memenuhi prinsip syariah serta dapat menerapkan batas rasio keuangan tertentu. ETF biasa tidak memiliki screening syariah tersebut.

Beberapa contoh ETF syariah yang diperdagangkan di pasar AS adalah SPUS dan HLAL. SPUS mengikuti S&P 500 Shariah Industry Exclusions Index, sementara HLAL mengikuti FTSE Shariah USA Index. Keduanya memberikan exposure terhadap kumpulan saham perusahaan AS yang lolos metodologi screening masing-masing.

ETF syariah dirancang mengikuti metodologi kepatuhan syariah tertentu, tetapi standar screening dapat berbeda antarproduk dan yurisdiksi. Investor sebaiknya memeriksa metodologi indeks, pihak yang melakukan pengawasan, dan dokumen resmi produk. Untuk kebutuhan penilaian agama secara personal, investor dapat merujuk pada otoritas atau penasihat syariah yang dipercaya.

Tidak selalu. ETF syariah tetap menghadapi risiko pasar, penurunan harga, likuiditas, tracking error, dan konsentrasi sektor. Screening terhadap aktivitas dan leverage tertentu dapat mengubah profil portofolio, tetapi tidak menghilangkan risiko investasi.

12 menit

Apa Itu QQQ ETF? Cara Kerja, Holdings, dan Risikonya

8 menit

ETF vs Index Fund: Perbedaan, Biaya, dan Cara Memilih

10 menit

MSCI World Index: Pengertian dan Cara Investasinya

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.